Minggu, 25 Maret 2012



Mungkin Pagi ini
atau esok nanti
aku kan datang padamu
menjelma sebagai puisi
menyentuh hatimu dengan untaian kataku
menyapamu dengan segenap ungkapan rindu

sesekali aku ingin
berpijak pada permukaan mentari
dan ingin berteriak kupanggil namamu
dan dengan segenap keberanianku
ingin kuungkapkan
sesuatu yang tersembunyi dilubuk hati

mungkinkah dapat terwujud?
mustahil.............
karena aku sadari diri
hanya sebatas pemilik sayap patah
yang tak mungkin dapat terbang menuju ke langit...

Gambar Diri



Termenung dalam goresan goresan pinsil
membentuk sambil menatap setiap lekukan
gambar wajah,,merenung seketika aku
tak ada yang kurang dalam diriku...
namun mengapa rasa syukur itu kadang terkurang dalam hatiku
Astaghfirullah..
ku tatap lagi gambarku..ku goreskan setiap sudut matanya
bagai menatap mataku,,dan berkata
masih kau menjadi dirimu?
atau..kau lebih suka menjadi diri orang lain hanya tuk mencari
pujian..Ya allah...
apa otakku buntu karena karuniamu?
apa hatiku juga sudah menjadi kaku?
kesombongankah?atau memang khilaf diri?
Ya allah..tegurlah
ingatkan hamba..bahwa gambar ini akan hancur bila ku kehendaki
seperti diri & jiwa ini yang seutuhnya milik-Mu
dalam renungku..diatas kanvas lukisan diriku...
bergelisah diraut senja
dan segenap guratan kegelisahanku...
aku tuliskan kembali dengan tinta airmata agar aku bisa terlepas dari semua ini

sayu...sebab rindu itu terus mengguruiku
merayu penuh harap dengan segala keindahannya
merajuk lembut dengan halus tutur katanya yang begitu mempesona
terjebak aku....dalam sebuah keadaan
dimana hanya aku yang merasa tidak bahagia
disini mungkin hanya aku menangis

berkawan dengan sedih yang tak pernah terputus
mengalir disetiap darah dan nafasku saat aku menghirup dunia
merasa cinta....rasa yang membuatku mati rasa
mencoba terlepas...namun aku tak mau mengingkari
berhenti berharap
meski mimpi itu terlalu indah untuk ditinggalkan

TUHAN...maafkan aku yang menyerah dalam keadaan ini
hambamu yang penuh dosa ini telah sering melupakanMU
meninggalkan saat dimana seharusnya aku mengingat
meresapi dan memahami
setiap detik demi detik didunia ini ada dalam kuasaMU
hmm...dan aku mencoba bertahan dalam diorama ini
tak ada yang bisa menghalangiku...
untuk tetap menanti sebuah jawaban
dalam kisah cinta abadi yang terluka ini
untukmu dan juga untukmu

Dalam lukisan langit senja
terapung khayalku menyeruak rindu
ku tapaki kaki langit dengan iramaku mengecup
dan diantara gelombang yang merajut senja

Deting irama memecahkan lamunan
gendang sayang menggema di angkasa
Menyemat tubuhku...
Menyulam mimpiku..
yang terpasung gejolak rindu..

ku jamah tabir yang tersirat di langit
terpecah hening berkarat biru
terpaksakan naluri meramah hati
kugenggam angin yang mendesir
kubayangkan semua tentangmu..

Romansaku < Dalam Keheningan Senja >


kini senja merangkul tubuhku
meleburkan hening kala diri masih diam terpaku
memintalkan diri menggenang di sekujur tubuhku

aku tak bergeming...
aku gagu....
cemas sang camar pun tiada lagi meracau...
mengemaskan diri berpulang ke lembah sunyi sang waktu

senja yang kini melulukan segenap netra jingga
bergulung gulung pada sampul yang berutas kuning gelap
celah celah jingga di sudut pun meragu
meninggalkan diri membiarkanku tetap mendekap heningku

dan samarpun berlagu...
tertawa renyah mengusung pekat di tujuh lapis
berpendar pendar menghunus jingga yang semakin menipis..

tapi aku tetap tak bergeming...
menciptakan rindu yang terasakan mengering...
pada dirimu yang dulu berpaling...

sampai pada malam yang terasakan kian melesakan titik kerinduan
sebagai akhir dariku mengenang,melepas senja yang sedari tadi menggenang
menjadi pendar rasa mengukirkan Romansa Di Ujung Senja
dalam kepergian,yang tak berpulang...
dirimu...telah sirna tenggelam...